Malam Ramadhan di Masjid Kauman

14 Ramadhan, saya beserta Evit, Roni, dan Nofal ifthar bersama di Masjid Kauman Jogja. Suasana ini baru sekali bagi saya, sedangkan bagi adik saya, Evit sore itu kali kedua-nya berbuka puasa disana.

Dan hari itu sengaja kesana lagi untuk mengajak saya merasakan nuansa berbuka bersama dan tarawiah disana. 

Menakjubkan, itulah kesan saya saat berbuka dan tarawih disini. Dan kesan ini sulit untuk saya deskripsikan.

Berikut saya sertakan foto kegiatan jamaah setelah selesai tarawih di selasar masjid.

captured by. Millaty Fitrah

16 Ramadhan 1438 H/ 11 Juni 2017 M

Dalam perjalanan Jogja-Jakarta dengan Kereta 🙂

“berambisi-memforsir diri”

Dua hari yang lalu, saya dihubungi oleh teman adik saya yang juga sudah saya anggap seperti adik sendiri. Semenjak pertengahan tahun kemaren kami sering bertemu. Bahkan beberapa kali dia menginap di kost saya di Depok.

Dua hari yang lalu dia menghubungi saya untuk “sharing” mengenai tes interview yang akan dia jalani (yaitu tadi pagi). Sebelumnya kami juga sudah berdiskusi sekitaran dua bulan yang lalu untuk ini. 

Begini cuplikan telponan saya dengannya malam itu.

Saya : S

Dia  : D

D : jadi gimana kak, kalo mau jawab “sebutkan kelemahan diri kamu” itu Kak…

S : apalagi ya dek…bingung juga…kalo kita sebutin “kadang saya ceroboh” ga mungkin juga yaa…bakalan kena banget itu. 

D : iya Kak…pewawancaranya bisa bilang “gimana dong kalo kamu ceroboh, ngelakuin operasi trus ceroboh ketinggalan alat-alat di pasien nanti”. Walaupun ceroboh saya bukan gitu maksudnya kak. Lagian sebelum operasi dan menjelang menutup bagian yang dioperasi kan tim nya bakal cek semua Kak…

S : iya dek…jadi apa ya, tambahan kelemahan ya dek…hemmm…kalo berambisi gimana dek.

D : berambisi itu kelemahan ya Kak ?

S: berambisi itu tergantung sie dek…bisa kelemahan juga kan yaa…atau bilang “kadang saya terlalu memforsir diri” gimana dek…

D : Tapi kak, kita hidup Kan emang harus memforsir diri Kak…toh kalo kita ibadah juga harus diforsir juga Kak…kalo ga kita bakal malas-malasan…

S : (jleb) iyaa yaa dek…kalo ga diforsir ibadah kita ga ningkat-ningkat yaa..

(Percakapan berlanjut…)
Saya serasa tersadarkan dengan ucapan si adek, bagaimana pentingnya memforsir diri dalam ibadah. Karena kita tak pernah tahu, berapa lama waktu yang diberikan Sang Khaliq untuk kita. Karena kita tak pernah tahu, kapan waktu berhenti bagi umur kita.

Dan hari ini, dia mengabarkan telah selesai menjalani tes interview nya. Dan menunggu hasil tes 2 minggu lagi. Semoga rezeki ya dek di Solo. Aamiin.

Depok, 13 Ramadhan 1438 H 

Purnama di langit Depok dengan beberapa bintang malam ini. (Foto diambil dari UI-otw halte bikun Pocin)

-amelya-

​السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Halaw Amelya pkbr

Ibu Annie
Kita ktm di RS cipto yaa

Masih ingat ?

Begitulah chatt WA yang barusan saya terima. Chatt dari nomor baru.

Membaca itu saya langsung mencoba membongkar memorie untuk menemukan nama “bu ANIE yang bertemu di rumah sakit cipto”. 

Alhamdulillah ingatan itu muncul dan saya membalas chatt beliau serta menanyakan kabar. 

Si Ibu mengirimkan foto dan kemudian menanyakan “Nenek sudah pulang ?”

Dari foto yang dikirimkan ada foto bu Annie. Saya tidak salah ingat. Namun, pertanyaan “Nenek sudah pulang” mengindikasikan “Amelya” yang dimaksud bukanlah saya. Kemudian saya membalas chatt si ibu

Nenek yang mana bu ?

Kita ketemu dulu di ICU rscm saat ibu dampingin doa bapak Ams*r (pasien yang saya follow up pengobatannya bu)

Dan akhirnya terungkap…ternyata saya bukanlah “Amelya” yang sebenarnya ingin di chatt oleh si Ibu…:D

Mungkin ada banyak nama Amelya yang ada di daftar kontak Ibu-nya (memang saat bertemu di rumah sakit Kami saling tukar nomor telephone, namun karena saya GA bawa hp ke ruangan jadilah nomor itu masih di buku catatan saja ) 😀

Tapi akhirnya Kami bercerita juga…:) 

Salah chatt yang berbuah silaturahmi ^_^

​Arena Berbagi Pengalaman : Solusi Praktis Masalah Mental Dan Kesehatan Pada Lansia

Matahari pagi dan matahari senja memiliki keindahan tersendiri. Keindahan salah satunya tak mengalahkan keindahan yang lain. Masing-masing mengandung keindahan yang sarat makna dan menakjubkan.  Seperti isyarat yang disampaikan Tuhan melalui matahari pagi dan matahari senja, ada pesona elok dalam matahari pagi saat menyongsong siang yang terang benderang dan ada nuansa menawan pada pancaran matahari senja  saat menyambut malam yang gelap gulita. Begitu pula dengan stase hidup manusia, stase bayi dan stase menua. Setiap stase punya keistimewaan masing-masing. Sehingga upaya dalam menyajikan masa tua yang indah bagi para lanjut usia (lansia) adalah suatu hal yang wajib untuk kita upayakan.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, Lanjut Usia adalah seseorang yang telah  mencapai usia 60 tahun (enam puluh) tahun keatas. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS, Susenas pada tahun 2014, proporsi lansia Indonesia telah mencapai 8,03 % dari total keseluruhan penduduk. Hal ini berarti Indonesia merupakan negara berstruktur tua dengan populasi lansia diatas 7%. Jumlah ini diproyeksikan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2050.

Untuk mempersiapkan diri dalam mengelola populasi lansia yang terus meningkat tersebut, bagian penting yang perlu diperhatikan dalam menangani para lansia adalah menjaga kesehatan mental mereka. Dimana seiring usia yang semakin menua, sistem dan fungsi organ pada lansia akan menurun. Hal ini menyebabkan para lansia tidak dapat beraktivitas seproduktif mereka sebelumnya. Adanya penurunan produktivitas memicu terjadinya perubahan pada status mental lansia. Mereka akan menjadi rentan untuk sensitif dan depresi apabila pengurangan aktivitas ini tidak segera ditangani dengan baik. Oleh karena itu solusi praktis dalam menjaga kesehatan mental lansia adalah dengan memberikan arena untuk sarana berbagi pengalaman bagi lansia.

Arena  berbagi pengalaman didesain sesuai dengan ergonomis lansia. Sedangkan program yang disusun di arena berbagi pengalaman ini disesuaikan dengan tingkat dan status sosial ekonomi serta profesi para lansia. Kegiatan berbagi pengalaman ini dapat dilakukan dalam dua bentuk yaitu: berbagi pengalaman antar lansia dan berbagi pengalaman lintas generasi. Kedua bentuk kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara bercerita atau disertai dengan peragaan (sesuai dengan konteks pengalaman dan kemampuan lansia)

Berbagi pengalaman antar lansia bermanfaat untuk perasaan saling mengisi diantara sesama lansia sehingga para lansia dapat bernostalgia dan tidak merasa sepi. Sedangkan kegiatan berbagi pengalaman lintas generasi, selain untuk bernostalgia dan menghindari kesepian, kegiatan ini juga dapat bermanfaat sebagai ajang lansia untuk mentransfer nilai dan pelajaran hidup ke generasi yang lebih muda, sehingga diharapkan lansia pada masa berikutnya memiliki kualitas yang lebih baik dari sebelumnya. Dan kegiatan ini juga memberikan perasaan “masih bermafaat” pada diri lansia, dan perasaan ini sangat baik untuk kesehatan lansia, baik secara mental maupun fisik. Sehingga kegiatan ini dapat meningkatkan rasa empati dan rasa sosial yang baik di masyarakat karena terlibatnya berbagai generasi pada kegiatan ini.

Diharapkan program ini dapat direalisasikan secara nasional sehingga besarnya jumlah lansia Indonesia di tahun 2050 memiliki mental yang tetap baik dan dapat menikmati masa tua yang indah.

Referensi :

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) diakses dari http://www.bappenas.go.id/files/data/Sumber_Daya_Manusia_dan_Kebudayaan/Statistik%20Penduduk%20Lanjut%20Usia%20Indonesia%202014.pdf diakses pada tanggal 16 Maret 2017

Peeters, Marieke & Mark. A Neerinck. 2016. Human-Agent Experience Sharing: Creating Social Agents for Elderly People with Dementia. Future PD. Vol: 16:18-19

Undang-Undang Republik Indonesia No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia

Amelya Afryandes

[#tulisgagasmimpi 17 Maret 2017]

sapayuksapa

Lama tak menegurmu blog

Sering kulirik, apa daya ku takut untuk bubuhkan larik

Sekali ku tertarik bubuhkan larik kan sulit bagiku tuk berbalik, karena kau begitu menarik

Baiklah blog cukup ini untuk awali sapaan kita di bulan Mei 

Dariku, dari kota selatan bumi, Melbie. Saat dini hari di musim gugur ini 

-malam-

Angin tiada, hening. 

Kipas menyala, berputar, mengirim angin menyentuh ujung-ujung jari

Pada langit kelam dipagut malam, kutulis puisi dengan dua jari tersentuh angin yang menggigilkan hati

Syukurku atas waktu untuk istirahatkan diri…Malam…

bukan titik

kapital, huruf yang memulai kalimat, mestinya

begitu aturan tata bahasa

Begini ?

ya, seharusnya.

cerita, acapkali tak begitu

tiada huruf besar-tanda kalimat akan dimulai-tuk memberi isyarat

menyelonong memuat kisah yang tak berakhir titik (seperti ini)

seringkali hanya koma, dengan jeda yang entah berapa lama

karena cerita tak kan pernah berakhir selama peradaban manusia berjalan di lini masa

~A.Afryandes. Depok 2017~